Gemuruh terdengar sambung menyambung begitu terlihat kilatan listrik membelah dilangit,menyertai hujan yang turun semakin deras membasahi bumi.Jalanan yang berbatu tampak tak kuat lagi menahan derasnya hujan, batu-batu penyusun jalanan copot satu demi satu terseret aliran air kecoklatan yang semakin lama semakin mencengkram keras dan membanting.
Hawa terasa semakin menusuk tulang, langit sudah terlihat gelap, walaupun jam baru menunjukan jam 5 sore.
Mamet terlihat masih bertahan di atas motornya ia tampak hampir kehilangan keseimbangan, roda motornya pun tampak tak kuat lagi membelah aliran air yang semakin tinggi. Bibirnya kelihatan membiru dengan wajah yang hampir pucat pasi. Namun, ia masih berusaha memacu motor model 70-an yang sebentar-sebentar menjert karena tidak mampu lagi menahan beban.
“Satu setangah jam lagi sampai”. Gumamnya sambil sekali-kali mengelap matanya yang hampit kabur dihalangi hujan diiringi dengan erangan-erangan kecil menahan pedih disaat butiran-butiran hujan semakin keras menimpa wajahnya.
Jalan terlihat semakin gelap, padahal magrib masih setengah jam lagi.Disana-sini terlihat nyala lampu dari rumah penduduk membuat suasana sedikit terasa nyaman
Mamet mencoba mempercepat laju motornya walaupun jalanan berbatu dan berlobang membuatnya berguncang hebat. Tapi roda motornya tetap tak sanggup menyeimbangi licinnya jalan memaksanya kembali bergerak pelan.
Hujan tanpaknya telah menunjukan kebaikan hatinya walau kadang-kadang masih ada rintik-rintik kecil.
Dirogohnya saku bagian dalam bajunya,terasa kertas surat yang dibawanya telah meggumpal semetara air semakin cepat menyerap di kertas yang semakin hancur.
Jangan-jangan tulisannya telah sudah hancur pikirnya. Terlihat goresan-goresan ketakutan semakin nyata menggambarkan kegundahan hatinya di wajah yang semakin membiru.
Dihurupnya nafas dalam-dalam, dia tak sanggup membayangkan apa jadinya kalau sampai kertas itu hancur.
Tiba-tiba motornya teras tertahan, dicobanya melirik ternyata roda motornya masuk kedalam kubangan yang mengandung air.
“Ah ….sial” bentaknya sambil turun dari jok motornya, dicobanya mendorong ke kiri depan dan belakang tapi tetap saja roda motornya tidak bisa keluar, dicobanya memperbesar gas motornya sambil terus memberi tekanan di bagian belakang motornya, akhirnya dengan sedikit hentakan keras motornya pun keluar dari kubangan di tepi semprotan lumpur talah memandikan lebih dari separuh tubuhnya.
Tanpa memperdulikan pakaian, ia terus melaju, hembusan angin kian terasa menusuk di tambah pakaian yang mengering dengan sendirinyadi tubuhnya. Tulang-tulangnya terasa ngilu menggigit. Tapi,rasa sakit yang terus menggerogoti tubuhnya seakan tak ada harganya di bandingkan selembar suarat yang telah menggumpal.
****
Pukul 07.00 sore akhirnya ia sampai juga disebuah rumah putih diterangi lampu bewarna-warni disebuah beranda yang cukup megah.
Dicoba mengetuk pintu bewarna putih yang dihiasi sedikit corak klasik itu, tak berselang lama muncullah seorang lelaki paruh baya yang sudah terlihat lunglai dan letih padahal tubuhnya masih terlihat kekar dan berotot.
“Mau apa Kau kesini ?.”Tanyanya ketus, sambil memandang sinis Mamet yang berdiri mematung tanpa mampu mengucapkan sepatah katapun. “Hai kau dengan aku, mau apa kesini”.
“Mmm…….ini Pak Sumbaga, dari Pak Kades”, jawab Mamet terbata-bata disodorkannya kertas yang sudah hampir hancur itu, tangannya bergetar sangat sulit rasanya harus berhadapan dengan Pak Sumbaga seorang tua yang tinggal sendirian di sebuah villa tua jauh dari keramaian.
“Apa lagi?” Bentaknya, matanya terlihat garang, rahangnya terlihat keras menahan marah yang tak mampu ia keluarkan.
“ Belum puas kalian dengan apa yang kalian lakukan kepadaku.”
“A…..a….anu Pak, … ini Cuma sekedar surat dari Pak Kades” Mamet makin pucat,nafasnya mulai terasa sesak, peluh dingin sedikit demi sedikit tapi pasti mulai membanjiri tubuhnya.
“ Surat….surat….surat apa lagi, surat apa lagi hah???
“ Say, saya tidak tahu Pak”
“ Tidak tahu katamu, gila-gila kalian semua, kalian memang tak punya perasaan egois sinting, brengseek…???
“ Pak……tenang dulu pak”
“ Tenang? Kalian semua memang sama saja, pengecut….!!!
Pak Sumbaga tampak tak bisa lagi menahan emosinya, dilemparkan gumpalan kertas yang hampir hancur itu tanpa ada niat sedikitpun untuk membacanya .
“ Pak…, tolonglah pada saya cuma mengantarkannya Pak, sungguh saya tidak tau apa-apa”
Mamet masih terus mencoba menenangkan Pak Sumbaga meski lututnya sudah tak mampu lagi berdiri menahan detaran jantungnya yang berdetak keras menahan ketakutan.
“ Cuma mengantarkan !!!, mudah sekali mulutmu bicara, licik-licik kalian semua, kalian cuma bisa bersembunyi dibalik pakaian kebesaran kalian apa artinya semua ini hah…., apa?? Di cengkramnya krah baju mamet yang masih terap diam terpaku.
Apa hanya ini yang kalian miliki, apa hati kalian sudah hilang dibakar semua mata gila kekuasaan kalian, apa hanya ini yang kalian punya”
“Pak …… Pak ini cuma surat Pak” Mamet mencoba membangkitkan keberaniannya walaupun lidahnya sudah terasa kelu untuk berbicara”
“ Surat lagi….surat lagi, surat apa? kalian hanya duduk di belakang meja menjadikan jabatan hanya untuk sekedar mempertahankan kekuasaan kalian, surat!!! surat!!! Kau kira aku tak tau kenapa Kau sampai harus mengantarkan surat ini padaku kalian ingin mengusirku, kan? kalian ingin aku pergi, pergi dari tanah kelahiranku, pergi meniggalkan semua kenanganku, siapa kalian ??? apa sebegitu bencinya kalian padaku hah!!!, jawab….. jawab???
Mamet tak mampu lagi menahan luapan marah Pak sumbaga, ia mulai mengigil lututnya mulai terasa lemas, ia mulai jatuh pelan sangat pelan.
“Jawab kataku, jawab”, Pak sumbaga masih terus menyerangnya tanpa memperdulikan Mamet yang terpaku dihadapannya.
“Apa aku begitu hina, mantan residivis, mantan pengedar, berpuluh tahun di dalam bui, apa iya kalian begitu suci ???
“Pak”, jawab Mamet pelan
“Hai,atau kalian ingin mengusirku karena kalian kira aku mantan residivis mengidap AIDS, iya…iya kan?, dimana otak kalian kalian semua picik terlalu mudah menilai” apa iya …apa iya….
Pak Sumbaga tampak tak kuat lagi mengeluarkan semua kembung diperutnya, suaranya mulai terdengar pelan, tampak jelas di wajahnya luka yang harus terbuka kemabali.
“Apa Kau kira Kau begitu mulia melayani pimpinanmu, atau pimpinanmu yang paling mulia, kenapa-kenapa??? Kau tidak bisa mempercayaiku sedikit saja kenapa hah, kenapa???
Pak sumbaga masih terus merintih, tampak begitu beratnya beban yang dideritanya selama ini.
“ Mengapa kalian begitu percaya dia ?, kenapa? apa karena dia duduk di belakang meja, tersenyum, melambaikan tangan dengan wajah sok bijaksana yang dibuat buat, sok pengayom, sombong!!!
Cukup…Pak…….cukup Mamet terlihat tidak tahan lagi mendengar pimpinannya dihina seprti itu
“Eiii, Kau kira mengapa dia ingin mengusirku hah, kenapa??? Kau tahu kenapa? Apa Kau kira dia mengusirku karena ingin menjauhkan rakyatnya dari malapetaka, iya…iya… iya hah ??jawab…..jawab…. Kau salah..salah…….
“ Tolong Pak tolong tenangkan sedikit mulut Bapak dia orang nomor satu di desa ini, jadi tolong jaga ucapan Bapak “, Mamet benar-benar tak kuat mendengar kades yang mati-matian dilayaninya harus dihina didepan matanya sendiri.
“Apa karena dia orang nomor satu iya…..seenaknya saja mengusir orang, hei kau tau tidak kenapa ia itu ingin mengusirku, tau……dia takut padaku takut..takut…semua kebohongan, semua tirai, semua topeng membentengi nya, yang selama ini harus hancur, terkuak. Takut…..takut moral bejatnya akan terbongkar.
“Pak tolong Pak”
Mamet terus mencoba mengelaurkan seluruh tenaganya untuk menenangkan Pak Sumbaga.
“Apa …… apa kau tidak percaya padaku karena aku pernah masuk penjara, iya.. karena aku hidup dalam keterasingan iya!!!.
Lelaki paruh baya itu terus menyerang Mamet dengan membabi buta, Mamet masih terus terdiam, sekarang tidak sepatah katapun ia mampu ia ucapkan.
“Sudahlah Kau takkan pernah mengerti”, kata Pak Sumbaga lagi pelan. “Sekarang Kau pergilah tidak ada gunanya kau merayuku aku akan tetap di pendirianku dan bilang sama kadesmu jangan harap itu akan terjadi”. Kata pak Sumbaga terakhir kalinya sebelum hilang dibalik pintu villa raksasa yang kembali terlihat sunyi tidak berpenghuni.
Marmet masih terus diam berangsur-angsur dicobanya bangkit dari keterpurukannya, lalu dengan langkah gontai pergi tanpa tau harus melakukan apa menjauh sejauh mungkin pergi tak ingin kembali.
****
Malam semakin larut Mamet baru saja kembali ke pondok kecilnya di pinggir desa samping persawahan. Tanpa pikir panjang dilepaskannya tubuh kurus itu di atas sofa tua yang tidak empuk lagi tanpak jelas dari kasurnya yang sudah datar.
“Baru pulang Met dari mana saja?” tiba-tiba ibunya muncul dari ruang tengah membawa segelas teh manis panas.
“Biasa Mak dari menghantar surat”, jawabnya pendek sambil menyeruput teh yang disodorkan ibunya.
“Sampai malam begini memang seberapa banyak Yuang surat yang harus Ang antarkan. “tanya ibunya lagi sinis”, seperti tak peduli melihat keadaan anaknya yang pulang dalam keadaan letih dan lemas.
“ Cuma satu Mak”
“ Cuma satu ? sampai selarut ini, memang kemana sih met Ang antarkan itu surat”
“ Ke rumah Pak Sumbaga Mak” jawab Mamet cuek
“ Apa? Sumbaga…….”, Ibu Mamet kaget luar biasa ketika mendengar anaknya menyebut nama Sumbaga. “Si pengidap AIDS itu? Masya Allah Met apa Ang tak tau betapa mematikannya virus itu.
“ Mak belum tentu berita itu”. Mamet masih tetap ngeles. Dia seperti tidak ingin melayani kemarahan ibunya.
“ Apanya yang belum jelas Pak Kades yang mengumumkan berita itu”.
“ Siapa tahu berita itu bohong Mak, dibuat-buat”. Tiba-tiba Mamet teringat dengan kata-kata Pak Sumbaga ada rasa bergedik juga senadainya semua itu benar.
“ Met apa Ang kira Emak ini pembohong ? Met Mak jadi curiga kenapa Ang mesti pulang kampung kenapa Ang mau jadi pesuruh”.
“ Mak …..” Mamet tak menyangka ibunya akan mengusik hal itu lagi.
“ Kenapa Ang jadi kaget begitu mungkin juga kan Ang pulang karena kebodohan Ang sendiri”.
“ Mak…….kenapa Mak jadi begini kan sudah saya bilang berkali-kali sama Mak saya malas dengan politik kotor !!!”
“ Kotor Ang bilang tapi yang jelas tidak mematikan layaknya AIDS”, jawab ibunya lagi geram.”
“ Politik mematikan banyak orang Mak, sedangkan AIDS…….”
“ Sedangkan AIDS apa ? menulari banyak orang, menggerogoti banyak orang, membunuh”, potong ibunya lagi.
“ Mak tidak mudah untuk ditulari AIDS sulit Mak, sulit”.
“ Sulit……tapi kalau Ang bergaul dengannya bukan tidak mungkin, lalu nanti semua orang bilang anak Mak Siti mengidap Aids pantas saja dia pulang bela-belain jadi pesuruh, bela-belain melepas impiannya menjadi orang penting. Kenapa sekolah tinggi-tinggi kalau hanya jadi pesuruh anggota dewan saja tidak perlu sekolah setinggi itu, mau ditaruh dimana muka Mak mu ini Met mau ditaruh dimana ?”
Ibu Mamet tidak mampu lagi menahan perasaannya matanya mulai berkaca-kaca”.
“ Mak kan sudah saya bilang belum tentu berita itu benar siapa tahu saja Pak Kades yang bohong”. Ujar Mamet mencoba menenagkan hati Ibunya.
“ Mudah benar Ang berucap seperti itu, tapi kalau memang iya bukankah Ang juga membantu kejahatannya Pak Kades bukankah itu juga kotor?, tanya ibunya lagi bertubi-tubi.
“ Kan semuanya belum jelas Mak masih kabur, belum tau mana yang benar”. Jawab Mamet yang masih berusaha tenang.
Malam kian larut, suara binatang-bintang malam mulai terdengar saling sahut menyahut dari kejauhan, tapi walaupun begitu Mak Siti masih belum puas dengan jawaban anaknya.
“ Belum jelas, sama saja, bukankah lebih baik Ang kembali ke kota dan memulai karier Ang kembali dari pada disini melakukan sesuatu yang tak jelas”, kata Ibunya lagi datar.
“ Mak, kenapa Mak masih memaksa saya untuk berpolitik ,kenapa Mak? Apa karena Mak malu anak Mak hanya menjadi pesuruh desa.
“ Salah satunya”, jawab ibunya lagi tanpa pikir panjang layaknya mendapat angin segar.
“ Mak”
Berdesir darah Mamet tak menyangka Ibunya bisa sedingin itu. Dicobanya menimbang-nimbang dan berfikir, “ Apakah salah lebih memilih menjadi pesuruh dibanding menjadi anggota dewan.
Mamet masih bingung tak tahu harus menjawab apa, sementara itu suara binatang malam semakin medayu dan merayu meninabobokan semua yang mencuri dengar.
“ Sekarang apa lagi alasanmu”, tanya mak Siti lagi “sudah jelas menjadi anggota dewan lebih mulia ketimbang pesuruh”, lanjutnya.
Mamet masih diam dan terpaku, “Anggota dewan banyak yang berskandal Mak”, jawabnya pelan.
“ Tidak semuanya, bukankah Ang bisa merubahnya dan memperjuangkan masyarakat”, berondong ibunya lagi tidak mau kalah.
“ Suara satu orang tidak akan diperhitungkan Mak, hanya akan terimpit gelombang, saya takut Mak nanti saya juga akan seperti mereka, bersenang-senang lupa tanggung jawab”. Jawab Mamet akhirnya sambil berlalu masuk ke kamar diiringi sorot mata ibunya yang melongo menatapnya.
*****
Referensi
Ang = sapaan terhadap anak laki-laki minang
Yuang / buyuang = panggilan kepada anak laki-laki orang minang
Mak = sapaan untuk ibu orang Minang
Arsip Blog
Rabu, 30 April 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar