Aku mengantuk, tapi aku ngak bisa tidur. Jam menunjukkan pukul 4 dini hari. Berisik detik-detik jam dinding kamar kos yang berlalu menandakan malam semakin dekat subuh, tak jauh berisik tanda kehidupan mulai terdengar, dan aku belum tidur sedetikpun, walau rasa kantuk tak tertahankan merasukiku. Berbagai bayangan silih berganti memenuhi otakku seperti slide kuliah yang diputar lama. Kadang menyengangkan, namun tak urung pula kengerian yang menjadi.
Tubuhku serasa semakin dingin, sprei kasur single tempat aku merebahkan tubuh sudah tak berbentuk lagi. Sprei warna kuning itu t’lah keluar masuk sisi kasur, menyembulkan kasur busa yang penuh iler yang sudah kering membentuk pulau-pulau di kaki dan arah kepala.
Kupandangi tubuhku lekat-lekat, aku rasa tubuhku sedikit melar sekarang. Setelah tiga hari yang lalu selera makanku kembali, dimana sebelumnya selama hampir tiga minggu tak satupun yang aku sukai. Aku tetap mengonsumsi makanan, tapi tak terasa aku menginginkannya. Walau rasanya tak pahit, cuma tak ingin jadi aku putuskan aku baik-baik saja tak perlu ke dokter.
Aku berguling-guling mencari posisi paling enak, menyebabkan tempat tidur kayu yang aku tumpangi berderit-derit tak karuan. Secepatnya sebuah kesadaran menghampiriku, dengan malas kujulurkan tangan memeriksa sambungan ujung dipan. Ternyata benar, sedikit gerakan lagi sambungan itu akan lepas dan aku akan jatuh berdebam.
Mataku bergerak sekeliling, detik-detik jam semakin cepat berlalu. Di sudut lemari tampak sebuah tongkat, yang aku sendiri tak tau kenapa ada di kamar ini. Tongkat itu telah ada sejak aku mendiami kamar kosan ini. Aku beranjak semacam bisikan memenuhi telingaku, tak ada jalan lain aku harus jadi tukang kayu malam-malam begini. Namun, ya semua masih terlelap dalam tidur indahnya masing-masing dan aku hanya akan bikin ulah. Masih jelas dalam bayanganku putaran demi putaran film kehidupanku di kosan ini, dimana aku kena peringatan mukul-mukul kayu malam-malam. Tanpa satu orangpun yang mengerti bagaimana rasanya jatuh dari tempat tidur, dan parahnya tak boleh diperbaiki, dan itu artinya mereka lebih menyukai aku tak melanjutkan tidur.
Tanpa merasa menemukan jalan keluar lain, akhirya terpakasa aku mendorong sisi tonggak dipan dengan tanganku sendiri. Sedikit ngilu memang, tapi tak apalah tanganku cukup kuat akibat latihan karate yan telah aku tekuni selama 4 tahun. Namun yang pasti dipan itu sekarang cukup kuat menahan putaran tubuhku, setidaknya sampai pagi menjelang.
Kepalaku semakin melayang-layang. Tanpa merapikan sprei tak karuan aku langsung merebahkan diri di kasur yang berantakan itu. Tapi, lagi-lagi aku tak bisa tidur.
Hembusan angin yang menyeruak di jendala kaca yang diapit itu terasa membikin beku. Kupandangi gorden berwarna pink yang melambai-lambai kecil itu. Tampak dibayanganya warna merah muda kabur dari cahaya lampu neon 20 watt kamar. Aku memang tak bisa tidur tanpa lampu, meski terang neon 20 watt sama dengan pijar 100 watt, ditambah untuk untuk ukuran kamar 7,5 m2. Aku rasa cahaya itu memang sangat merangsang photo reseptor mataku. Tapi tak apalah.
Bayangan merah muda kabur itu terasa bergerak-gerak dengan semilir angin lembut yang mengenainya. Kepalaku dipenuhi bermacam gambaran pola imajinasi yang semakin membuat tengkukku dingin.
“Jangan lewat jalan raya arah kebun binatang tengah malam begini,” peringatan-peringatan Ires berulang-ulang kali memenuhi relung bawah sadarku, aku menolak tapi aku tak berdaya. Aku dan teman-temanku membuat karya ilmiah untuk TTKI (Bahasa Indonesia) di kampus sampai menjelang tengah malam. Tugas itu merupakan prasarat untuk mengikuti UAS besok sorenya, dan buat penjilitan memakan waktu sehari, dan hanya yang ada di Dago yang lumayan cepat, dan itupun 5 jam. Jadi kami langsung pergi menjilitnya malam itu. Untunglah Wedi bawa mobil.
“Memangnya kenapa? Jangan macam-macam malam-malam begini deh,” ulasan suara Deno kembali terulang. Sekuat tenaga aku menutup rapat-rapat kedua belah telingaku. Namun suara itu tatap berlanjut.
“Ada yang huruf tengahnya “c” kan,” ucapan datar Dersi terngiang-ngiang jelas di telingaku. Aku sebenarnya malam itu benar-benar tak ada clue tentang apa yang huruf tengahnya “c”, aku mencoba mengingat seluruh macam hantu bin hantu tapi tetap tak ada, kuntilanak, tuyul, vampir, drakula, sundel bolong.
“Memang apa sih,” tanyaku lugu malam itu, pura-pura bertanya seakan aku superior tak takut apapun, karena memang aku sedikitpun tak ada petunjuk kesana. Sekaligus aku senang melihat mereka merapatkan diri dan berseru ketakutan.
“Udah jangan dibahas, pokoknya gw pasti akan cari jalan pulang yang rame,” aha, si Wedi ketakutan, dan aku senyum serampangan takut ketahuan.
“Wuiiih,” nafasku memburu, aku benar-benar tak suka dengan ingatan ini. Apalagi aku tinggal tak jauh dari kebun binatang, walu memang terpisah satu kompleks dan aku ingat apa itu yang huruf tengahnya “c”, sesuatu yang aku takutkan semenjak akau masih-masih kanak-kanak “Pocong”.
Sreeek, jantungku serasa berhenti berdetak. Bayangan-bayangan datang semakin cepat, dan satu hal yang pasti benar-benar berada di sebelah jendela kamarku, sesuatu yang bergerak. Padahal aku ada di lantai dua dan yang di sebelah kamarku adalah atap. Malingkah, atau apa, yang jelas kompleks tempat kau tinggal merupakan kompleks yang sangat terkenal akan keamanannya. Lalu itu apa???
Aku memang penakut semenjak kecil. Tapi setelah aku kuliah ketakutan itu sedikit-sedikit mulai luntur. Aku bahkan berani barada di balkon jam tiga pagi. Balkon itu menghadap ke sungai yang bersebelahan langsung dengan kosanku. Udara segar dan dingin menyapu bola mataku. Aku merindukannya.
Tuk, srek, tuk. Suara itu semakin jelas dan berhenti tiba-tiba. Aku merasa detak jantungku menangis minta ampun, minta tolong. Tapi, kau tak berani teriak, selain ketakutan akan omelan aku juga seorang yang punya kebanggaan sangat luar biasa akan diriku sendiri. Aku tak mau disebut pecundang.
Sambil terus mencoba menstabilkan, detak jantung dan pola nafasku, kucoba meraih gorden itu pelan-pelan. Sementara bayangan lain tak pernah berhenti mengincarku.
Aku lupa bagaimana tepat, dan sesungguhnya isinya. Tapi yang jelas hal itu tentang sebuah sms yang dibacakan lewat radio, yang entah berapa bulan yang lalu, yang isinya”................................................................aku berdiri di sebelah jendelamu” dan aku disana adalah sesuatu yang huruf tengahnya “c”. Aku benar ngak tau harus bilang apa, mungkin ini terdengar konyol tapi yang jelas, tapi namanya pun aku tak berani sebut.
Kuraba kulit-kulit tubuhku. Kata orang-orang sewaktu takut maka peluh dingin akan membanjiri tubuh sebesar biji-biji jagung. Tapi aku tidak, tak kurasakan sedikitpun tanda-tanda keringat di kulitku. Bahkan rasa lengket dan sedikit garam tak kutemui tanda-tandanya, walau aku sudah tak mandi selama tiga hari.
“hem, he,” aku tak tau aku tertawa dalam bayanganku atau justru dalam kesadaranku. aku merasa terpojok sangat malah. Tak kusangka bayangan yang tak seharusnya datang disaat begini. Kumaki diriku sendiri, diri yang telah membawaku berfantasi di saat yang tak tepat. Kenyataan tak mandi membawa ke kehidupanku hampir setahun yang lalu dimana saat itu aku pulang kampung dan tak mandi lebih dari seminggu.
Ibuku mencak-mencak tak karuan. Beliau tak marah hanya tak senang. Tapi, itu membuat aku merasa beruntung, sebab aku memang tak ada niat mandi sedikitpun. Aku mencari-cari alasan apaun asal aku tak disuruh mandi, mulai dari airnya dingin yang tak mempan saat disuruh mandi pakai air panas sampai tak ada warung di kediamanku yang menjual shampo yang aku pakai. Pokoknya semua cara asal tak ada kata mandi. Sampai ayahku pun ikut andil terus bilang “apa yang Kau pikirkan tak mandi selama selama itu, apa itu bersih,” aha, ini soal kecil aku tau yang dimaksud arti kata bersih disini, yang berarti aku bersih untuk membawa diriku sholat. Untuk yang satu ini kau selau siap tempur “aku menganti pakaianku rutin dan itu berarti bersih”.
“Tetap saja perlu mandi,” ayahku bersikeras, teringat dalam benakku ayahku bukan seorang yang suka banyak bicara, tapi kenapa beliau begitu ngotot nyuruh aku mandi. Apa iya aku memang harus mandi. Tapi tak apalah ngotot doang tak masalah yang penting aku adalah aku. Bahkan pergi berkeliaran Payakumbuh mengunjungi teman-teman dan guru SMA aku tak mandi.
Tak, teng. Suara gerakan berat dan jatuh tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Kupandangi lenganku menempel pada gorden, kucoba ingat apa tadi yang sedang kulakukan. Aku merasa fikiranku pendek apa????? Tiba-tiba kurasakan jantungku berdetak cepat, ya aku tadi ingin mengecek luar jendelaku curiga ada yang huruf tengahnya “c”.
Sekali lagi kumaki diriku, kenapa aku harus ingat. Kadang-kadang aku merasa beruntung dan bersyukur punya ingatan pendek. Tapi, seringkali marah dan berontak apalagi itu soal materi kuliah. Namun, kali ini kenapa aku harus ingat, padahal tadi hampir lupa, dan sekarang untuk membuatnya lupa sudah tak mungkin dan aku harus bersiap menemui jantungku berdenyut di luar tubuhku.
Aku merasakan angin subuh semakin dingin, tapi bagian lain dari tubuhku malah mensyukuri berharap subuh secepatnya datang. Kata orang hantu cuma bergerak sampai saat fajar menjelang, yang berarti azan subuh pertanda datangnya fajar dan yang huruf tengahnya “c” ini akan segera menghilang.
Kutarik nafas panjang, terpanjang dari yang pernah kulakukan seumur hidupku. Membayangkan kemungkinan terburuk saat kusibak gorden jendelaitu, saat mataku baradu dengan mata yang huruf tengahnya “c”. Kukumpulkan seluruh keberanianku dan dengan seluruh sisa kekuatanku secepat yang kau bisa jemariku menarik gorden itu ke belakang dan...................
******
Kupandangi email itu berkali-kali sebelum aku kirim, aku rasa ia akan mengira ini merupakan cerpen bukan pengalaman pribadi, dan aku sangat mengharapkan begitu. Tak tau dimana harus kuletakkan wajahku saat dia mengiran ini merupakan kisah hidupku.
Berbagai keraguan menyeruak diriku, bagaimana dan jikalau dia tau itu kisah hidupku. Bisa hancur reputasiku. Tapi mau bagaimana lagi janji adalah janji, saat aku bilang aku akan memberinya sebuah cerita saat aku tau dia suka cerita. Tapi tepat saat waktu yang dijanjikan aku tak tau harus bilang apa. Namun yeah, dia hanya teman di net tak apalah dia tau kalau itu kisah hidupku. Toh dia tak tau siapa aku sebenarnya.
Tanpa ragu lagi kursor komputerku telah mengklik tombol send, dan sekarang aku bebas deh. He..he sekarang saatnya sign out, toh semuanya sudah beres.
Kursor komputerku telah menunjuk tombol sign out, sebulum akhirnya sebuah mail masuk dalam imboxku, dan itu datang dari dari teman yang baru aku kirimim mail.
Hai.....
Btw ceritanya bagus juga, kehidupan pribadi ya. Ce ce ce ga nyangka Engkau begitu tapi tak apalah sudah jujur. He he he mungkin dirimu kira aku akan bilang itu sebuah cerita khayalan kali ya. Tapi mo bagaimana lagi begitu baca yang huruf tengahnya “c” aku merasa sangat akrab. Apalagi saat nama-namnya kamu sebut rasanya friendly sangat gitu.
Kepala gw puyeng apa maksud dengan kata-kata akrab ini, semua tanda tanya merasuki kepala gw. Apa yang ingin dia sampaikan.
Hmmm, kamu tau tidak aku sangat senang lo berkenalan ama kamu. Ternyata kamu orangnya wuaaah ga bisdi sebut deh.
Ouh ya, ga apa-apa deh kayaknya jika aku kepanjangan juga, toh buat counter cerita kamu. He.he..he jangan marah ya aku kebanyakan ketawa. Hmmm,mm,mmm boleh tidak aku juga jujur ama kamu. Dari cerita kamu tadi ada nama aku lo.
Seperti mimpi di siang bolong, aku terlonjak dari kursi dudukku. Apa ini apa. Rasa-rasanya petir tanpa hujan telah menyambar-nyambar rambut dan kupingku.
Hmmm, kalau ga salah yang mendeklarasikan huruf tengahnya “c” itu aku lo, he..he... aku teman sekelas kamu Dersi lo, dan kamu pasti Lala, dah ca ne.......