Minggu, 14 September 2008

percakapan diri puasa

ga disangka ternyata ramdhan udah hampir setengahnya dilalui. tapi.............. gw ga tau yang gw lakuin udah apa. banyak hal yang terjadi. menurut sebagian orang, dan ini sih memang udah ketentuan agama, jika puasa yang sebenar-benar puasa dengan kata lain yang disuruh sama yang maha pencipta maka pada saat idul fitri, maka kita akan kembal kepada kelahiran alias fitri yang berarti bersih.
heh...tidak semua orang memiliki kekuatan untuk mengontrl diri sendiri. memang benar puasa bertujuan untuk mengontrol diri. tapi jika ternyata godaan yang terjadi, atau yang di dapat melebihi kontrol diri, so ..?????



jika ada saudara-saudara di luar sana yang pernah mengalami hal seperti ini, yuk sharing aja. atau yang punya saran berbagilah mumpung masih puasa

Rabu, 04 Juni 2008

........"c"..........................

Aku mengantuk, tapi aku ngak bisa tidur. Jam menunjukkan pukul 4 dini hari. Berisik detik-detik jam dinding kamar kos yang berlalu menandakan malam semakin dekat subuh, tak jauh berisik tanda kehidupan mulai terdengar, dan aku belum tidur sedetikpun, walau rasa kantuk tak tertahankan merasukiku. Berbagai bayangan silih berganti memenuhi otakku seperti slide kuliah yang diputar lama. Kadang menyengangkan, namun tak urung pula kengerian yang menjadi.

Tubuhku serasa semakin dingin, sprei kasur single tempat aku merebahkan tubuh sudah tak berbentuk lagi. Sprei warna kuning itu t’lah keluar masuk sisi kasur, menyembulkan kasur busa yang penuh iler yang sudah kering membentuk pulau-pulau di kaki dan arah kepala.

Kupandangi tubuhku lekat-lekat, aku rasa tubuhku sedikit melar sekarang. Setelah tiga hari yang lalu selera makanku kembali, dimana sebelumnya selama hampir tiga minggu tak satupun yang aku sukai. Aku tetap mengonsumsi makanan, tapi tak terasa aku menginginkannya. Walau rasanya tak pahit, cuma tak ingin jadi aku putuskan aku baik-baik saja tak perlu ke dokter.

Aku berguling-guling mencari posisi paling enak, menyebabkan tempat tidur kayu yang aku tumpangi berderit-derit tak karuan. Secepatnya sebuah kesadaran menghampiriku, dengan malas kujulurkan tangan memeriksa sambungan ujung dipan. Ternyata benar, sedikit gerakan lagi sambungan itu akan lepas dan aku akan jatuh berdebam.

Mataku bergerak sekeliling, detik-detik jam semakin cepat berlalu. Di sudut lemari tampak sebuah tongkat, yang aku sendiri tak tau kenapa ada di kamar ini. Tongkat itu telah ada sejak aku mendiami kamar kosan ini. Aku beranjak semacam bisikan memenuhi telingaku, tak ada jalan lain aku harus jadi tukang kayu malam-malam begini. Namun, ya semua masih terlelap dalam tidur indahnya masing-masing dan aku hanya akan bikin ulah. Masih jelas dalam bayanganku putaran demi putaran film kehidupanku di kosan ini, dimana aku kena peringatan mukul-mukul kayu malam-malam. Tanpa satu orangpun yang mengerti bagaimana rasanya jatuh dari tempat tidur, dan parahnya tak boleh diperbaiki, dan itu artinya mereka lebih menyukai aku tak melanjutkan tidur.

Tanpa merasa menemukan jalan keluar lain, akhirya terpakasa aku mendorong sisi tonggak dipan dengan tanganku sendiri. Sedikit ngilu memang, tapi tak apalah tanganku cukup kuat akibat latihan karate yan telah aku tekuni selama 4 tahun. Namun yang pasti dipan itu sekarang cukup kuat menahan putaran tubuhku, setidaknya sampai pagi menjelang.

Kepalaku semakin melayang-layang. Tanpa merapikan sprei tak karuan aku langsung merebahkan diri di kasur yang berantakan itu. Tapi, lagi-lagi aku tak bisa tidur.

Hembusan angin yang menyeruak di jendala kaca yang diapit itu terasa membikin beku. Kupandangi gorden berwarna pink yang melambai-lambai kecil itu. Tampak dibayanganya warna merah muda kabur dari cahaya lampu neon 20 watt kamar. Aku memang tak bisa tidur tanpa lampu, meski terang neon 20 watt sama dengan pijar 100 watt, ditambah untuk untuk ukuran kamar 7,5 m2. Aku rasa cahaya itu memang sangat merangsang photo reseptor mataku. Tapi tak apalah.

Bayangan merah muda kabur itu terasa bergerak-gerak dengan semilir angin lembut yang mengenainya. Kepalaku dipenuhi bermacam gambaran pola imajinasi yang semakin membuat tengkukku dingin.

Jangan lewat jalan raya arah kebun binatang tengah malam begini,” peringatan-peringatan Ires berulang-ulang kali memenuhi relung bawah sadarku, aku menolak tapi aku tak berdaya. Aku dan teman-temanku membuat karya ilmiah untuk TTKI (Bahasa Indonesia) di kampus sampai menjelang tengah malam. Tugas itu merupakan prasarat untuk mengikuti UAS besok sorenya, dan buat penjilitan memakan waktu sehari, dan hanya yang ada di Dago yang lumayan cepat, dan itupun 5 jam. Jadi kami langsung pergi menjilitnya malam itu. Untunglah Wedi bawa mobil.

Memangnya kenapa? Jangan macam-macam malam-malam begini deh,” ulasan suara Deno kembali terulang. Sekuat tenaga aku menutup rapat-rapat kedua belah telingaku. Namun suara itu tatap berlanjut.

“Ada yang huruf tengahnya “c” kan,” ucapan datar Dersi terngiang-ngiang jelas di telingaku. Aku sebenarnya malam itu benar-benar tak ada clue tentang apa yang huruf tengahnya “c”, aku mencoba mengingat seluruh macam hantu bin hantu tapi tetap tak ada, kuntilanak, tuyul, vampir, drakula, sundel bolong.

“Memang apa sih,” tanyaku lugu malam itu, pura-pura bertanya seakan aku superior tak takut apapun, karena memang aku sedikitpun tak ada petunjuk kesana. Sekaligus aku senang melihat mereka merapatkan diri dan berseru ketakutan.

Udah jangan dibahas, pokoknya gw pasti akan cari jalan pulang yang rame,” aha, si Wedi ketakutan, dan aku senyum serampangan takut ketahuan.

“Wuiiih,” nafasku memburu, aku benar-benar tak suka dengan ingatan ini. Apalagi aku tinggal tak jauh dari kebun binatang, walu memang terpisah satu kompleks dan aku ingat apa itu yang huruf tengahnya “c”, sesuatu yang aku takutkan semenjak akau masih-masih kanak-kanak “Pocong”.

Sreeek, jantungku serasa berhenti berdetak. Bayangan-bayangan datang semakin cepat, dan satu hal yang pasti benar-benar berada di sebelah jendela kamarku, sesuatu yang bergerak. Padahal aku ada di lantai dua dan yang di sebelah kamarku adalah atap. Malingkah, atau apa, yang jelas kompleks tempat kau tinggal merupakan kompleks yang sangat terkenal akan keamanannya. Lalu itu apa???

Aku memang penakut semenjak kecil. Tapi setelah aku kuliah ketakutan itu sedikit-sedikit mulai luntur. Aku bahkan berani barada di balkon jam tiga pagi. Balkon itu menghadap ke sungai yang bersebelahan langsung dengan kosanku. Udara segar dan dingin menyapu bola mataku. Aku merindukannya.

Tuk, srek, tuk. Suara itu semakin jelas dan berhenti tiba-tiba. Aku merasa detak jantungku menangis minta ampun, minta tolong. Tapi, kau tak berani teriak, selain ketakutan akan omelan aku juga seorang yang punya kebanggaan sangat luar biasa akan diriku sendiri. Aku tak mau disebut pecundang.

Sambil terus mencoba menstabilkan, detak jantung dan pola nafasku, kucoba meraih gorden itu pelan-pelan. Sementara bayangan lain tak pernah berhenti mengincarku.

Aku lupa bagaimana tepat, dan sesungguhnya isinya. Tapi yang jelas hal itu tentang sebuah sms yang dibacakan lewat radio, yang entah berapa bulan yang lalu, yang isinya”................................................................aku berdiri di sebelah jendelamu” dan aku disana adalah sesuatu yang huruf tengahnya “c”. Aku benar ngak tau harus bilang apa, mungkin ini terdengar konyol tapi yang jelas, tapi namanya pun aku tak berani sebut.

Kuraba kulit-kulit tubuhku. Kata orang-orang sewaktu takut maka peluh dingin akan membanjiri tubuh sebesar biji-biji jagung. Tapi aku tidak, tak kurasakan sedikitpun tanda-tanda keringat di kulitku. Bahkan rasa lengket dan sedikit garam tak kutemui tanda-tandanya, walau aku sudah tak mandi selama tiga hari.

“hem, he,” aku tak tau aku tertawa dalam bayanganku atau justru dalam kesadaranku. aku merasa terpojok sangat malah. Tak kusangka bayangan yang tak seharusnya datang disaat begini. Kumaki diriku sendiri, diri yang telah membawaku berfantasi di saat yang tak tepat. Kenyataan tak mandi membawa ke kehidupanku hampir setahun yang lalu dimana saat itu aku pulang kampung dan tak mandi lebih dari seminggu.

Ibuku mencak-mencak tak karuan. Beliau tak marah hanya tak senang. Tapi, itu membuat aku merasa beruntung, sebab aku memang tak ada niat mandi sedikitpun. Aku mencari-cari alasan apaun asal aku tak disuruh mandi, mulai dari airnya dingin yang tak mempan saat disuruh mandi pakai air panas sampai tak ada warung di kediamanku yang menjual shampo yang aku pakai. Pokoknya semua cara asal tak ada kata mandi. Sampai ayahku pun ikut andil terus bilang “apa yang Kau pikirkan tak mandi selama selama itu, apa itu bersih,” aha, ini soal kecil aku tau yang dimaksud arti kata bersih disini, yang berarti aku bersih untuk membawa diriku sholat. Untuk yang satu ini kau selau siap tempur “aku menganti pakaianku rutin dan itu berarti bersih”.

Tetap saja perlu mandi,” ayahku bersikeras, teringat dalam benakku ayahku bukan seorang yang suka banyak bicara, tapi kenapa beliau begitu ngotot nyuruh aku mandi. Apa iya aku memang harus mandi. Tapi tak apalah ngotot doang tak masalah yang penting aku adalah aku. Bahkan pergi berkeliaran Payakumbuh mengunjungi teman-teman dan guru SMA aku tak mandi.

Tak, teng. Suara gerakan berat dan jatuh tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Kupandangi lenganku menempel pada gorden, kucoba ingat apa tadi yang sedang kulakukan. Aku merasa fikiranku pendek apa????? Tiba-tiba kurasakan jantungku berdetak cepat, ya aku tadi ingin mengecek luar jendelaku curiga ada yang huruf tengahnya “c”.

Sekali lagi kumaki diriku, kenapa aku harus ingat. Kadang-kadang aku merasa beruntung dan bersyukur punya ingatan pendek. Tapi, seringkali marah dan berontak apalagi itu soal materi kuliah. Namun, kali ini kenapa aku harus ingat, padahal tadi hampir lupa, dan sekarang untuk membuatnya lupa sudah tak mungkin dan aku harus bersiap menemui jantungku berdenyut di luar tubuhku.

Aku merasakan angin subuh semakin dingin, tapi bagian lain dari tubuhku malah mensyukuri berharap subuh secepatnya datang. Kata orang hantu cuma bergerak sampai saat fajar menjelang, yang berarti azan subuh pertanda datangnya fajar dan yang huruf tengahnya “c” ini akan segera menghilang.

Kutarik nafas panjang, terpanjang dari yang pernah kulakukan seumur hidupku. Membayangkan kemungkinan terburuk saat kusibak gorden jendelaitu, saat mataku baradu dengan mata yang huruf tengahnya “c”. Kukumpulkan seluruh keberanianku dan dengan seluruh sisa kekuatanku secepat yang kau bisa jemariku menarik gorden itu ke belakang dan...................

******

Kupandangi email itu berkali-kali sebelum aku kirim, aku rasa ia akan mengira ini merupakan cerpen bukan pengalaman pribadi, dan aku sangat mengharapkan begitu. Tak tau dimana harus kuletakkan wajahku saat dia mengiran ini merupakan kisah hidupku.

Berbagai keraguan menyeruak diriku, bagaimana dan jikalau dia tau itu kisah hidupku. Bisa hancur reputasiku. Tapi mau bagaimana lagi janji adalah janji, saat aku bilang aku akan memberinya sebuah cerita saat aku tau dia suka cerita. Tapi tepat saat waktu yang dijanjikan aku tak tau harus bilang apa. Namun yeah, dia hanya teman di net tak apalah dia tau kalau itu kisah hidupku. Toh dia tak tau siapa aku sebenarnya.

Tanpa ragu lagi kursor komputerku telah mengklik tombol send, dan sekarang aku bebas deh. He..he sekarang saatnya sign out, toh semuanya sudah beres.

Kursor komputerku telah menunjuk tombol sign out, sebulum akhirnya sebuah mail masuk dalam imboxku, dan itu datang dari dari teman yang baru aku kirimim mail.

Hai.....

Btw ceritanya bagus juga, kehidupan pribadi ya. Ce ce ce ga nyangka Engkau begitu tapi tak apalah sudah jujur. He he he mungkin dirimu kira aku akan bilang itu sebuah cerita khayalan kali ya. Tapi mo bagaimana lagi begitu baca yang huruf tengahnya “c” aku merasa sangat akrab. Apalagi saat nama-namnya kamu sebut rasanya friendly sangat gitu.

Kepala gw puyeng apa maksud dengan kata-kata akrab ini, semua tanda tanya merasuki kepala gw. Apa yang ingin dia sampaikan.

Hmmm, kamu tau tidak aku sangat senang lo berkenalan ama kamu. Ternyata kamu orangnya wuaaah ga bisdi sebut deh.

Ouh ya, ga apa-apa deh kayaknya jika aku kepanjangan juga, toh buat counter cerita kamu. He.he..he jangan marah ya aku kebanyakan ketawa. Hmmm,mm,mmm boleh tidak aku juga jujur ama kamu. Dari cerita kamu tadi ada nama aku lo.

Seperti mimpi di siang bolong, aku terlonjak dari kursi dudukku. Apa ini apa. Rasa-rasanya petir tanpa hujan telah menyambar-nyambar rambut dan kupingku.

Hmmm, kalau ga salah yang mendeklarasikan huruf tengahnya “c” itu aku lo, he..he... aku teman sekelas kamu Dersi lo, dan kamu pasti Lala, dah ca ne.......

Sabtu, 24 Mei 2008

getar

Rasa yang tak terungkap

Cengeng terlalu cengeng

Tapi, itu menurutmu bukan maksudku

Sayang sungguh sayang

Namun, semua t’lah terjadi

Siapa diri ini sering ku bertanya

Tapi, apa jawabnya

Kegilaan, ketololan

Kubasuh muka yang terlanjur basah

Ingin kuungkapkan

Lagi-lagi tapi

PADA SIAPA????????????????????????????

Aku hanya kerikil kecil yang tak berarti

Hilang diantara kokohnya menara pencakar langit

Adakah tempat

Sekedar mimpi

Merasa menjadi sesuatu yang terlihat

Hentikan, naluriku berteriak tak ada gunanya bermimpi

Semua t’lah tersurat, biarlah seperti ini

Ini diriku ini hidupku

Kamis, 01 Mei 2008

Tips buat ngemukin badan

1. jangan banyak begadang
2. masalah santai aja
3. ngemil sambil nonton, ganti semua isi buah- buahan yang ada di kulkas lo ama ice cream, coklat.
4. buah yang baik alpukat, nangka, ama durian
5. belajar santai tapi nilai bagus

Rabu, 30 April 2008

mamet antara dewan dan pesuruh

Gemuruh terdengar sambung menyambung begitu terlihat kilatan listrik membelah dilangit,menyertai hujan yang turun semakin deras membasahi bumi.Jalanan yang berbatu tampak tak kuat lagi menahan derasnya hujan, batu-batu penyusun jalanan copot satu demi satu terseret aliran air kecoklatan yang semakin lama semakin mencengkram keras dan membanting.
Hawa terasa semakin menusuk tulang, langit sudah terlihat gelap, walaupun jam baru menunjukan jam 5 sore.
Mamet terlihat masih bertahan di atas motornya ia tampak hampir kehilangan keseimbangan, roda motornya pun tampak tak kuat lagi membelah aliran air yang semakin tinggi. Bibirnya kelihatan membiru dengan wajah yang hampir pucat pasi. Namun, ia masih berusaha memacu motor model 70-an yang sebentar-sebentar menjert karena tidak mampu lagi menahan beban.
“Satu setangah jam lagi sampai”. Gumamnya sambil sekali-kali mengelap matanya yang hampit kabur dihalangi hujan diiringi dengan erangan-erangan kecil menahan pedih disaat butiran-butiran hujan semakin keras menimpa wajahnya.
Jalan terlihat semakin gelap, padahal magrib masih setengah jam lagi.Disana-sini terlihat nyala lampu dari rumah penduduk membuat suasana sedikit terasa nyaman
Mamet mencoba mempercepat laju motornya walaupun jalanan berbatu dan berlobang membuatnya berguncang hebat. Tapi roda motornya tetap tak sanggup menyeimbangi licinnya jalan memaksanya kembali bergerak pelan.
Hujan tanpaknya telah menunjukan kebaikan hatinya walau kadang-kadang masih ada rintik-rintik kecil.
Dirogohnya saku bagian dalam bajunya,terasa kertas surat yang dibawanya telah meggumpal semetara air semakin cepat menyerap di kertas yang semakin hancur.
Jangan-jangan tulisannya telah sudah hancur pikirnya. Terlihat goresan-goresan ketakutan semakin nyata menggambarkan kegundahan hatinya di wajah yang semakin membiru.
Dihurupnya nafas dalam-dalam, dia tak sanggup membayangkan apa jadinya kalau sampai kertas itu hancur.
Tiba-tiba motornya teras tertahan, dicobanya melirik ternyata roda motornya masuk kedalam kubangan yang mengandung air.
“Ah ….sial” bentaknya sambil turun dari jok motornya, dicobanya mendorong ke kiri depan dan belakang tapi tetap saja roda motornya tidak bisa keluar, dicobanya memperbesar gas motornya sambil terus memberi tekanan di bagian belakang motornya, akhirnya dengan sedikit hentakan keras motornya pun keluar dari kubangan di tepi semprotan lumpur talah memandikan lebih dari separuh tubuhnya.
Tanpa memperdulikan pakaian, ia terus melaju, hembusan angin kian terasa menusuk di tambah pakaian yang mengering dengan sendirinyadi tubuhnya. Tulang-tulangnya terasa ngilu menggigit. Tapi,rasa sakit yang terus menggerogoti tubuhnya seakan tak ada harganya di bandingkan selembar suarat yang telah menggumpal.
****
Pukul 07.00 sore akhirnya ia sampai juga disebuah rumah putih diterangi lampu bewarna-warni disebuah beranda yang cukup megah.
Dicoba mengetuk pintu bewarna putih yang dihiasi sedikit corak klasik itu, tak berselang lama muncullah seorang lelaki paruh baya yang sudah terlihat lunglai dan letih padahal tubuhnya masih terlihat kekar dan berotot.
“Mau apa Kau kesini ?.”Tanyanya ketus, sambil memandang sinis Mamet yang berdiri mematung tanpa mampu mengucapkan sepatah katapun. “Hai kau dengan aku, mau apa kesini”.
“Mmm…….ini Pak Sumbaga, dari Pak Kades”, jawab Mamet terbata-bata disodorkannya kertas yang sudah hampir hancur itu, tangannya bergetar sangat sulit rasanya harus berhadapan dengan Pak Sumbaga seorang tua yang tinggal sendirian di sebuah villa tua jauh dari keramaian.
“Apa lagi?” Bentaknya, matanya terlihat garang, rahangnya terlihat keras menahan marah yang tak mampu ia keluarkan.
“ Belum puas kalian dengan apa yang kalian lakukan kepadaku.”
“A…..a….anu Pak, … ini Cuma sekedar surat dari Pak Kades” Mamet makin pucat,nafasnya mulai terasa sesak, peluh dingin sedikit demi sedikit tapi pasti mulai membanjiri tubuhnya.
“ Surat….surat….surat apa lagi, surat apa lagi hah???
“ Say, saya tidak tahu Pak”
“ Tidak tahu katamu, gila-gila kalian semua, kalian memang tak punya perasaan egois sinting, brengseek…???
“ Pak……tenang dulu pak”
“ Tenang? Kalian semua memang sama saja, pengecut….!!!
Pak Sumbaga tampak tak bisa lagi menahan emosinya, dilemparkan gumpalan kertas yang hampir hancur itu tanpa ada niat sedikitpun untuk membacanya .
“ Pak…, tolonglah pada saya cuma mengantarkannya Pak, sungguh saya tidak tau apa-apa”
Mamet masih terus mencoba menenangkan Pak Sumbaga meski lututnya sudah tak mampu lagi berdiri menahan detaran jantungnya yang berdetak keras menahan ketakutan.
“ Cuma mengantarkan !!!, mudah sekali mulutmu bicara, licik-licik kalian semua, kalian cuma bisa bersembunyi dibalik pakaian kebesaran kalian apa artinya semua ini hah…., apa?? Di cengkramnya krah baju mamet yang masih terap diam terpaku.
Apa hanya ini yang kalian miliki, apa hati kalian sudah hilang dibakar semua mata gila kekuasaan kalian, apa hanya ini yang kalian punya”
“Pak …… Pak ini cuma surat Pak” Mamet mencoba membangkitkan keberaniannya walaupun lidahnya sudah terasa kelu untuk berbicara”
“ Surat lagi….surat lagi, surat apa? kalian hanya duduk di belakang meja menjadikan jabatan hanya untuk sekedar mempertahankan kekuasaan kalian, surat!!! surat!!! Kau kira aku tak tau kenapa Kau sampai harus mengantarkan surat ini padaku kalian ingin mengusirku, kan? kalian ingin aku pergi, pergi dari tanah kelahiranku, pergi meniggalkan semua kenanganku, siapa kalian ??? apa sebegitu bencinya kalian padaku hah!!!, jawab….. jawab???
Mamet tak mampu lagi menahan luapan marah Pak sumbaga, ia mulai mengigil lututnya mulai terasa lemas, ia mulai jatuh pelan sangat pelan.
“Jawab kataku, jawab”, Pak sumbaga masih terus menyerangnya tanpa memperdulikan Mamet yang terpaku dihadapannya.
“Apa aku begitu hina, mantan residivis, mantan pengedar, berpuluh tahun di dalam bui, apa iya kalian begitu suci ???
“Pak”, jawab Mamet pelan
“Hai,atau kalian ingin mengusirku karena kalian kira aku mantan residivis mengidap AIDS, iya…iya kan?, dimana otak kalian kalian semua picik terlalu mudah menilai” apa iya …apa iya….
Pak Sumbaga tampak tak kuat lagi mengeluarkan semua kembung diperutnya, suaranya mulai terdengar pelan, tampak jelas di wajahnya luka yang harus terbuka kemabali.
“Apa Kau kira Kau begitu mulia melayani pimpinanmu, atau pimpinanmu yang paling mulia, kenapa-kenapa??? Kau tidak bisa mempercayaiku sedikit saja kenapa hah, kenapa???
Pak sumbaga masih terus merintih, tampak begitu beratnya beban yang dideritanya selama ini.
“ Mengapa kalian begitu percaya dia ?, kenapa? apa karena dia duduk di belakang meja, tersenyum, melambaikan tangan dengan wajah sok bijaksana yang dibuat buat, sok pengayom, sombong!!!
Cukup…Pak…….cukup Mamet terlihat tidak tahan lagi mendengar pimpinannya dihina seprti itu
“Eiii, Kau kira mengapa dia ingin mengusirku hah, kenapa??? Kau tahu kenapa? Apa Kau kira dia mengusirku karena ingin menjauhkan rakyatnya dari malapetaka, iya…iya… iya hah ??jawab…..jawab…. Kau salah..salah…….
“ Tolong Pak tolong tenangkan sedikit mulut Bapak dia orang nomor satu di desa ini, jadi tolong jaga ucapan Bapak “, Mamet benar-benar tak kuat mendengar kades yang mati-matian dilayaninya harus dihina didepan matanya sendiri.
“Apa karena dia orang nomor satu iya…..seenaknya saja mengusir orang, hei kau tau tidak kenapa ia itu ingin mengusirku, tau……dia takut padaku takut..takut…semua kebohongan, semua tirai, semua topeng membentengi nya, yang selama ini harus hancur, terkuak. Takut…..takut moral bejatnya akan terbongkar.
“Pak tolong Pak”
Mamet terus mencoba mengelaurkan seluruh tenaganya untuk menenangkan Pak Sumbaga.
“Apa …… apa kau tidak percaya padaku karena aku pernah masuk penjara, iya.. karena aku hidup dalam keterasingan iya!!!.
Lelaki paruh baya itu terus menyerang Mamet dengan membabi buta, Mamet masih terus terdiam, sekarang tidak sepatah katapun ia mampu ia ucapkan.
“Sudahlah Kau takkan pernah mengerti”, kata Pak Sumbaga lagi pelan. “Sekarang Kau pergilah tidak ada gunanya kau merayuku aku akan tetap di pendirianku dan bilang sama kadesmu jangan harap itu akan terjadi”. Kata pak Sumbaga terakhir kalinya sebelum hilang dibalik pintu villa raksasa yang kembali terlihat sunyi tidak berpenghuni.
Marmet masih terus diam berangsur-angsur dicobanya bangkit dari keterpurukannya, lalu dengan langkah gontai pergi tanpa tau harus melakukan apa menjauh sejauh mungkin pergi tak ingin kembali.
****
Malam semakin larut Mamet baru saja kembali ke pondok kecilnya di pinggir desa samping persawahan. Tanpa pikir panjang dilepaskannya tubuh kurus itu di atas sofa tua yang tidak empuk lagi tanpak jelas dari kasurnya yang sudah datar.
“Baru pulang Met dari mana saja?” tiba-tiba ibunya muncul dari ruang tengah membawa segelas teh manis panas.
“Biasa Mak dari menghantar surat”, jawabnya pendek sambil menyeruput teh yang disodorkan ibunya.
“Sampai malam begini memang seberapa banyak Yuang surat yang harus Ang antarkan. “tanya ibunya lagi sinis”, seperti tak peduli melihat keadaan anaknya yang pulang dalam keadaan letih dan lemas.
“ Cuma satu Mak”
“ Cuma satu ? sampai selarut ini, memang kemana sih met Ang antarkan itu surat”
“ Ke rumah Pak Sumbaga Mak” jawab Mamet cuek
“ Apa? Sumbaga…….”, Ibu Mamet kaget luar biasa ketika mendengar anaknya menyebut nama Sumbaga. “Si pengidap AIDS itu? Masya Allah Met apa Ang tak tau betapa mematikannya virus itu.
“ Mak belum tentu berita itu”. Mamet masih tetap ngeles. Dia seperti tidak ingin melayani kemarahan ibunya.
“ Apanya yang belum jelas Pak Kades yang mengumumkan berita itu”.
“ Siapa tahu berita itu bohong Mak, dibuat-buat”. Tiba-tiba Mamet teringat dengan kata-kata Pak Sumbaga ada rasa bergedik juga senadainya semua itu benar.
“ Met apa Ang kira Emak ini pembohong ? Met Mak jadi curiga kenapa Ang mesti pulang kampung kenapa Ang mau jadi pesuruh”.
“ Mak …..” Mamet tak menyangka ibunya akan mengusik hal itu lagi.
“ Kenapa Ang jadi kaget begitu mungkin juga kan Ang pulang karena kebodohan Ang sendiri”.
“ Mak…….kenapa Mak jadi begini kan sudah saya bilang berkali-kali sama Mak saya malas dengan politik kotor !!!”
“ Kotor Ang bilang tapi yang jelas tidak mematikan layaknya AIDS”, jawab ibunya lagi geram.”
“ Politik mematikan banyak orang Mak, sedangkan AIDS…….”
“ Sedangkan AIDS apa ? menulari banyak orang, menggerogoti banyak orang, membunuh”, potong ibunya lagi.
“ Mak tidak mudah untuk ditulari AIDS sulit Mak, sulit”.
“ Sulit……tapi kalau Ang bergaul dengannya bukan tidak mungkin, lalu nanti semua orang bilang anak Mak Siti mengidap Aids pantas saja dia pulang bela-belain jadi pesuruh, bela-belain melepas impiannya menjadi orang penting. Kenapa sekolah tinggi-tinggi kalau hanya jadi pesuruh anggota dewan saja tidak perlu sekolah setinggi itu, mau ditaruh dimana muka Mak mu ini Met mau ditaruh dimana ?”
Ibu Mamet tidak mampu lagi menahan perasaannya matanya mulai berkaca-kaca”.
“ Mak kan sudah saya bilang belum tentu berita itu benar siapa tahu saja Pak Kades yang bohong”. Ujar Mamet mencoba menenagkan hati Ibunya.
“ Mudah benar Ang berucap seperti itu, tapi kalau memang iya bukankah Ang juga membantu kejahatannya Pak Kades bukankah itu juga kotor?, tanya ibunya lagi bertubi-tubi.
“ Kan semuanya belum jelas Mak masih kabur, belum tau mana yang benar”. Jawab Mamet yang masih berusaha tenang.
Malam kian larut, suara binatang-bintang malam mulai terdengar saling sahut menyahut dari kejauhan, tapi walaupun begitu Mak Siti masih belum puas dengan jawaban anaknya.
“ Belum jelas, sama saja, bukankah lebih baik Ang kembali ke kota dan memulai karier Ang kembali dari pada disini melakukan sesuatu yang tak jelas”, kata Ibunya lagi datar.
“ Mak, kenapa Mak masih memaksa saya untuk berpolitik ,kenapa Mak? Apa karena Mak malu anak Mak hanya menjadi pesuruh desa.
“ Salah satunya”, jawab ibunya lagi tanpa pikir panjang layaknya mendapat angin segar.
“ Mak”
Berdesir darah Mamet tak menyangka Ibunya bisa sedingin itu. Dicobanya menimbang-nimbang dan berfikir, “ Apakah salah lebih memilih menjadi pesuruh dibanding menjadi anggota dewan.
Mamet masih bingung tak tahu harus menjawab apa, sementara itu suara binatang malam semakin medayu dan merayu meninabobokan semua yang mencuri dengar.
“ Sekarang apa lagi alasanmu”, tanya mak Siti lagi “sudah jelas menjadi anggota dewan lebih mulia ketimbang pesuruh”, lanjutnya.
Mamet masih diam dan terpaku, “Anggota dewan banyak yang berskandal Mak”, jawabnya pelan.
“ Tidak semuanya, bukankah Ang bisa merubahnya dan memperjuangkan masyarakat”, berondong ibunya lagi tidak mau kalah.
“ Suara satu orang tidak akan diperhitungkan Mak, hanya akan terimpit gelombang, saya takut Mak nanti saya juga akan seperti mereka, bersenang-senang lupa tanggung jawab”. Jawab Mamet akhirnya sambil berlalu masuk ke kamar diiringi sorot mata ibunya yang melongo menatapnya.
*****


Referensi
Ang = sapaan terhadap anak laki-laki minang
Yuang / buyuang = panggilan kepada anak laki-laki orang minang
Mak = sapaan untuk ibu orang Minang